Sejarah Baru Atau Masalah Baru? Kontroversi Digitalisasi Pilwu 2025 Di Kabupaten Indramayu

oleh

Indramayu, CN Sejarah Baru atau Masalah Baru? Kontroversi Digitalisasi Pilwu 2025 di Kabupaten Indramayu

 

example banner

Indramayu, CN Pemilihan Kuwu (Pilwu) serentak di Kabupaten Indramayu tahun 2025 dipastikan akan menjadi catatan sejarah baru. Untuk pertama kalinya, proses demokrasi tingkat desa ini akan menerapkan sistem digitalisasi dalam pemungutan suara, menggantikan model manual yang selama puluhan tahun digunakan.

 

Kebijakan ini mendapat sambutan beragam dari masyarakat. Sebagian pihak menilai digitalisasi adalah langkah maju dalam modernisasi demokrasi desa, namun tidak sedikit pula yang meragukan kesiapan infrastruktur maupun keamanan sistem yang digunakan.

 

Bupati Indramayu dalam keterangan resminya menyatakan bahwa digitalisasi Pilwu 2025 merupakan upaya mewujudkan proses pemilihan yang lebih efisien, transparan, dan akuntabel. Dengan sistem digital, diharapkan potensi kecurangan seperti manipulasi suara dan keterlambatan hasil bisa diminimalisir.

BACA  Status Lahan Mojoroto Disoal, Ahli Waris H. Abbas Zaini Dahlan Minta Kejelasan Perubahan Hak

 

“Ini adalah sejarah baru demokrasi desa di Indramayu. Kami ingin memberikan jaminan bahwa suara rakyat benar-benar dihitung secara cepat, aman, dan transparan,” ujarnya.

 

Kekhawatiran dan Tantangan

 

Namun, penerapan sistem digital tidak lepas dari kontroversi. Sejumlah kalangan mempertanyakan kesiapan teknis dan literasi digital masyarakat desa. Mengingat sebagian besar pemilih berasal dari kalangan petani dan nelayan, ada kekhawatiran jika sistem digital justru menyulitkan mereka yang kurang terbiasa dengan teknologi.

BACA  KANTOR WILAYAH BADAN PERTANAHAN NASIONAL (BPN) SUMATERA UTARA JALIN KERJASAMA DENGAN KEJAKSAAN TINGGI SUMATERA UTARA

 

Selain itu, isu mengenai keamanan data dan potensi peretasan (hacking) juga mencuat. Pengamat politik lokal menilai, digitalisasi Pilwu harus diiringi dengan sistem pengawasan berlapis agar tidak menimbulkan kecurigaan publik.

 

Suara Masyarakat Terbelah

 

Beberapa warga desa menyambut baik inovasi ini karena dianggap mempercepat proses pemilihan. “Kalau digital, hasilnya cepat keluar, jadi tidak ada kecurigaan lagi,” kata Wahyudi, salah seorang warga.

 

Namun, warga lain merasa khawatir. “Kalau listrik mati atau jaringan internet bermasalah, bagaimana nasib suara kami? Jangan sampai suara rakyat hilang karena sistem,” ujar Sumiati, warga desa lainnya.

BACA  Sorotan Tajam K3 dan Isu Pekerja Anak di Kebun Rambutan PTPN 4 Regional 1: Management Bungkam dan Blokir Kontak Media.

 

Menuju Pilwu Berbasis Digital

 

Pemkab Indramayu memastikan bahwa uji coba sistem sudah dilakukan di sejumlah desa dan berjalan lancar. Meski demikian, publik masih menanti bukti nyata apakah digitalisasi benar-benar membawa sejarah baru atau justru melahirkan masalah baru dalam praktik demokrasi tingkat desa.

 

Pilwu 2025 di Indramayu diperkirakan akan menjadi barometer nasional bagi digitalisasi pemilu desa. Apapun hasilnya, Pilwu digital ini akan menjadi sorotan, bukan hanya di Indramayu, tetapi juga di seluruh Indonesia.

 

(Nana. S)

Tentang Penulis: Jomsen Silitonga Jurnalis Nganjuk

Gambar Gravatar
Kejujuran adalah modal utama

No More Posts Available.

No more pages to load.