Cakrawala Nusantara.id – Nganjuk — Senin pagi, (17/10/2025), Alun-Alun pondopo kabupaten Nganjuk,tidak seperti biasanya. Sejak pukul 09.00 WIB, puluhan anggota DPC Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI) Kabupaten Nganjuk, tokoh masyarakat, serta aktivis dari berbagai LSM mulai berkumpul. Tidak ada panggung megah, tidak ada spanduk besar. Hanya satu tujuan yang mengikat mereka: menghormati Marsinah, buruh perempuan yang nama dan perjuangannya kembali menjadi sorotan setelah negara menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional.
Tepat pukul 10.00 WIB, rombongan bergerak dalam konvoi menuju Makam Marsinah. Iring-iringan ini bukan sekadar perjalanan ziarah, tetapi penanda bahwa publik mengambil peran dalam menjaga jejak sejarah—sejarah yang selama puluhan tahun dipenuhi kabut ketidakadilan.
Marsinah: Nama yang Lama Diperjuangkan, Akhirnya Diakui Negara
Penetapan gelar Pahlawan Nasional bagi Marsinah dianggap sebagai koreksi sejarah. Selama puluhan tahun, kisah Marsinah berada di persimpangan: dikenang masyarakat, namun sunyi dalam ruang-ruang formal negara. Kini, pengakuan itu datang, dan masyarakat Nganjuk bergerak cepat merespons.
Dalam catatan PJI Nganjuk, penghargaan negara ini bukan sekadar simbol. Ini pernyataan bahwa keberanian seorang buruh perempuan tidak lagi bisa diredam oleh waktu, dan tidak bisa dihapus dari lembaran sejarah bangsa.
Aksi Tanpa Orasi Panjang, Tetapi Pesan Moral Sangat Jelas
Di Pendopo Brebek, para peserta aksi hanya saling berjabat tangan, menata barisan, lalu berangkat. Tidak ada seruan provokatif. Tidak ada poster politik. Yang ada hanyalah satu pesan kuat:
“Ketika negara menempatkan Marsinah di barisan pahlawan, masyarakat Nganjuk memastikan bahwa perjuangannya tetap hidup.”
Konvoi menuju makam berlangsung tertib, mengalir seperti arus sejarah yang kembali menemukan jalurnya.
Ziarah yang Menghadirkan Kembali Jejak Keteguhan
Di makam, peserta aksi menundukkan kepala. Tabur bunga dilakukan perlahan, seolah setiap kelopak bunga adalah penanda bahwa perjalanan perjuangan Marsinah tidak sia-sia. Dalam momen hening itu, satu kesadaran muncul:
pengorbanan Marsinah bukan milik masa lalu — ia adalah peringatan abadi tentang harga demokrasi dan keberanian.
Lebih dari Seremoni: Ini Gerakan Publik Mengawal Nilai-Nilai Perjuangan
Aksi ini menunjukkan bahwa masyarakat Nganjuk tidak hanya menerima gelar yang diberikan negara, tetapi mengawal maknanya. Marsinah bukan hanya simbol perjuangan buruh—dia adalah pengingat bahwa suara rakyat kecil tetap memiliki tempat dalam sejarah.
Para jurnalis PJI Nganjuk menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari peran sosial pers: menguatkan memori publik, menjaga konteks sejarah, dan memastikan bahwa perjuangan moral tidak hilang ditelan waktu.
Dengan berakhirnya tabur bunga, aksi ini menegaskan satu hal:
pengakuan negara kepada Marsinah bukanlah akhir, melainkan awal dari upaya kolektif menjaga nilai keadilan, keberanian, dan kemanusiaan yang diperjuangkannya.
Jomsen Silitonga Kabiro Nganjuk














