Srikandi Cempaka Sakti Meradang, Pihak Yayasan Sebut Korban Berjumlah 4 Orang ‎

oleh

LAHAT, SUMSEL. CN – Kemarahan kaum perempuan atau “Srikandi” di Desa Cempaka Sakti (SP1 Palembaja) kian memuncak. Mereka merasa dikhianati oleh sosok Ali Sadikin, pimpinan pondok pesantren yang semula diharapkan menjadi penuntun spiritual, namun kini justru diduga kuat telah mencoreng kesucian lingkungan mereka melalui tindakan amoral.

example banner

‎​Dugaan Tekanan dan Kondisi Korban, keresahan warga semakin mendalam karena salah satu korban diketahui merupakan anak dari keluarga broken home yang sangat rentan. Perwakilan warga, Ibu Sella, mengungkapkan bahwa masyarakat awalnya sangat mendukung pendirian pesantren tersebut, namun kini kecewa karena lembaga yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat terjadinya kejahatan.

BACA  SPBU No. 14.227.331 Batang Toru "Diduga Keras Menjual BBM Solar Subsidi Ke Mafia", Penegak Hukum Diam Seribu Bahasa.

‎​Silang Pendapat Jumlah Korban. ‎Terdapat perbedaan keterangan mengenai jumlah korban yang mengemuka di publik:

‎​Versi Warga: Berdasarkan cerita korban (PS) kepada tetangganya, korban diduga mencapai 9 orang atau lebih, mengingat perilaku pelaku yang dinilai menyimpang terhadap para santriwati.

BACA  Kasus BBM Subsidi di Tapsel Diduga Ditutup - Tutupi, SPBU Pemasok Belum Tersentuh Hukum.

‎​

Versi Yayasan: Ustadz Arifin Hermawan mewakili pihak yayasan membantah angka tersebut. Ia menegaskan bahwa sejauh ini korban teridentifikasi berjumlah 4 orang. “Jangan mengada-ada, bisa saya tuntut nanti,” tegasnya saat dikonfirmasi.

​Desakan untuk Kepolisian. ‎Para pemerhati sosial dan tokoh agama mulai menyoroti kinerja kepolisian yang dinilai pasif karena hanya menunggu laporan resmi dari korban. Mengingat para korban saat ini berada di bawah tekanan psikologis yang hebat serta intimidasi lingkungan, masyarakat mendesak polisi untuk segera mengambil tindakan proaktif.

BACA  Polres OKU Ungkap Kasus Pembantu Pelarian Tahanan Kejaksaan, Dua Orang Jadi Tersangka

‎​”Kasus ini sudah masuk ranah publik dan menyangkut masa depan anak-anak. Polisi harus bertindak tanpa menunggu, karena kondisi psikis korban saat ini sedang sangat terguncang,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat setempat.

No More Posts Available.

No more pages to load.