Kapolsek Pasimarannu: Pasca Gempa, 16 Rumah di Desa Bonea Sempat Terendam Air Pasang Setinggi 50 Sentimeter

oleh
oleh

Kep.Selayar.CN- Sebanyak 16 rumah warga di Desa Bonea, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, terdampak air pasang setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026) pagi.

Berdasarkan hasil peninjauan di lapangan, air pasang sempat merendam 16 rumah warga dengan ketinggian mencapai sekitar 50 sentimeter.

example banner

Kapolsek Pasimarannu Iptu Yudi Wibowo bersama Camat Pasimarannu dan perwakilan Koramil turun langsung ke Desa Bonea untuk meninjau kondisi masyarakat dan memastikan dampak yang ditimbulkan pascagempa.

BACA  Video Pekerja Tanpa APD Beredar, Outsourcing PTPN IV Bah Butong Ungkap 4 Dugaan Persoalan SIMALUNGUN I CN Persoalan tenaga kerja outsourcing di Pabrik Teh PTPN IV Regional II Bah Butong, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, kembali menjadi sorotan. Informasi awal mencuat setelah beredar video di media sosial yang memperlihatkan pekerja diduga melakukan aktivitas pekerjaan tanpa dilengkapi Alat Pelindung Diri (APD). Dari sorotan tersebut, redaksi SemiMedia kemudian menerima pesan pribadi melalui Messenger dari seorang pekerja outsourcing yang mengungkap sejumlah dugaan persoalan di lingkungan kerja. Pekerja tersebut meminta identitasnya dirahasiakan karena khawatir terhadap konsekuensi di tempat kerja. Dalam keterangannya kepada redaksi, sedikitnya terdapat empat persoalan yang disebut merugikan pekerja outsourcing. Lembur Dipertanyakan, Pekerja Mengaku Tak Mendapat Penjelasan Transparan Persoalan pertama menyangkut upah lembur. Pekerja mengaku tidak mengetahui secara jelas bagaimana perhitungan upah lembur dilakukan. Ketika perhitungan tersebut dipertanyakan, pekerja mengaku justru mendapatkan ancaman atau tekanan. Padahal, Kementerian Ketenagakerjaan menjelaskan bahwa kerja lembur memiliki ketentuan mengenai batas waktu dan pembayaran upah lembur. Karena itu, jika terdapat perbedaan antara jam kerja yang dijalani dengan pembayaran yang diterima, persoalan tersebut patut diperiksa melalui dokumen resmi perusahaan. Disebut Bisa Bekerja Hingga 22 Jam Persoalan kedua jauh lebih serius. Pekerja mengaku, ketika jumlah pucuk teh yang harus dikerjakan mencapai lebih dari 100 ton per hari, mereka bisa bekerja hingga sekitar 22 jam. Keterangan ini tentu membutuhkan verifikasi. Namun apabila benar terjadi, kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena menyangkut batas waktu kerja, waktu istirahat, keselamatan dan kesehatan pekerja. Kementerian Ketenagakerjaan sendiri menjelaskan bahwa ketentuan kerja lembur memiliki batas tertentu dan pada prinsipnya pekerja harus memperoleh waktu istirahat yang cukup. Pertanyaannya: siapa yang mengawasi pencatatan jam kerja pekerja outsourcing di Bah Butong? APD Disebut Harus Beli Sendiri Persoalan ketiga kembali menyangkut keselamatan kerja. Pekerja mengaku APD tidak pernah diberikan secara rutin oleh pihak pabrik sehingga mereka harus membeli sendiri perlengkapan keselamatan. Yang lebih miris, menurut pengakuannya, APD baru dipinjamkan ketika ada tamu datang ke pabrik. Setelah kunjungan selesai, APD tersebut disebut harus dikembalikan. Jika keterangan tersebut benar, kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan serius. Apakah APD disediakan untuk melindungi pekerja, atau hanya digunakan ketika perusahaan menerima kunjungan? Temuan ini juga perlu diklarifikasi karena penelitian terdahulu mengenai keselamatan kerja di Unit Bah Butong mencatat adanya program keselamatan, termasuk penyediaan APD, pelatihan keselamatan dan inspeksi peralatan kerja. Artinya, jika pekerja outsourcing saat ini mengaku harus membeli APD sendiri, perlu dijelaskan bagaimana implementasi SOP dan sistem K3 perusahaan terhadap tenaga outsourcing. Premi Disebut Hanya Diterima Separuh Persoalan keempat menyangkut premi kerja. Pekerja mengaku mereka memiliki hari libur setiap Senin. Ketika harus masuk bekerja, pembayaran disebut menggunakan sistem premi. Menurut pengakuannya, pernah ada informasi dari pihak pusat bahwa perhitungan premi pekerja outsourcing akan disamakan dengan karyawan pabrik. Namun, pekerja mengklaim premi yang diterima hanya sekitar setengah dari premi karyawan pabrik, sementara sisanya tidak diketahui ke mana. Jika benar terdapat perbedaan antara hak yang dijanjikan atau diperjanjikan dengan pembayaran yang diterima, maka transparansi perhitungan menjadi penting untuk diperiksa. Berapa sebenarnya premi yang menjadi hak pekerja? Berapa yang dibayarkan? Dan atas dasar aturan atau perjanjian apa perhitungannya? Kini Bukan Lagi Sekadar Persoalan APD Empat pengakuan tersebut membuat persoalan outsourcing di Bah Butong semakin serius. Sebelumnya, sorotan publik tertuju pada video pekerja yang diduga bekerja tanpa APD. Setelah itu muncul informasi mengenai dugaan tekanan terhadap pekerja dan pemindahan seorang pekerja ke bagian Afd. Kini muncul pula dugaan persoalan upah lembur, jam kerja sangat panjang, penyediaan APD, dan pembayaran premi. Rangkaian informasi tersebut tentu tidak boleh langsung dianggap sebagai fakta yang telah terbukti. Namun, cukup menjadi alasan bagi instansi berwenang untuk melakukan pemeriksaan dan mencocokkan pengakuan pekerja dengan dokumen perusahaan. Pengawas Ketenagakerjaan Diminta Turun Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Utara melalui Pengawas Ketenagakerjaan dinilai perlu melakukan pemeriksaan langsung. Pemeriksaan dapat mencakup daftar hadir, rekaman jam kerja, perhitungan dan pembayaran lembur, perjanjian kerja outsourcing, bukti pembayaran premi, serta dokumen penyediaan APD. Publik tidak membutuhkan sekadar bantahan. Yang dibutuhkan adalah transparansi dan pembuktian berdasarkan dokumen. Sebagai perusahaan milik negara, PTPN IV Regional II Bah Butong semestinya menjadi contoh dalam penerapan keselamatan kerja dan perlindungan tenaga kerja. Manajemen Belum Memberikan Klarifikasi Hingga berita ini ditayangkan, pihak manajemen PTPN IV Regional II Bah Butong belum memberikan klarifikasi resmi kepada redaksi terkait empat dugaan persoalan yang disampaikan pekerja tersebut. SemiMedia.co.id tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak manajemen maupun perusahaan penyedia tenaga outsourcing. Catatan Redaksi: Empat persoalan di atas merupakan keterangan seorang pekerja outsourcing yang disampaikan kepada redaksi melalui pesan pribadi. Redaksi belum menyimpulkan adanya pelanggaran dan masih menunggu verifikasi serta pemeriksaan dari pihak berwenang. HP. S/FB. S

Dari hasil peninjauan tersebut, air pasang diketahui menggenangi sejumlah rumah warga. Kondisi tersebut kemudian berangsur surut setelah air kembali turun.

Sebelumnya, informasi dari lapangan menyebutkan air juga sempat memasuki sejumlah jalan dan halaman permukiman warga. Desa Bonea sendiri memiliki tanggul yang berfungsi sebagai pemecah ombak, namun masih terdapat kawasan di Dusun One Timur yang belum terjangkau pemecah ombak.

Dalam peninjauan tersebut, aparat bersama pemerintah kecamatan juga memastikan kondisi warga serta perkembangan situasi di wilayah pesisir Desa Bonea.

BACA  Semarak HUT RI ke-81, TP PKK Datuk Bandar Gelar Perlombaan

Hingga peninjauan dilakukan, tidak terdapat laporan korban jiwa. Kondisi masyarakat terpantau aman dan air yang sebelumnya menggenangi permukiman telah berangsur surut.

Peristiwa tersebut terjadi setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang berpusat di wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah Kepulauan Selayar.

Sebelumnya, sebagian masyarakat di wilayah kepulauan memilih menuju tempat yang lebih tinggi sebagai langkah antisipasi setelah merasakan guncangan gempa dan adanya peringatan dini tsunami dari BMKG.

BACA  Kapolres Bantaeng Hadiri Pengukuhan Paskibraka Tingkat Kabupaten Bantaeng 2026

BMKG kemudian menyatakan peringatan dini tsunami akibat gempa tersebut telah berakhir. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan mengikuti perkembangan informasi resmi dari BMKG maupun pemerintah.

Jajaran Polres Kepulauan Selayar bersama pemerintah kecamatan dan unsur TNI terus melakukan pemantauan terhadap kondisi masyarakat, khususnya di wilayah kepulauan yang terdampak guncangan gempa.( Ucok Haidir )

No More Posts Available.

No more pages to load.