Hidayat Muhammad Berikan Bantuan ke Pondok Pesantren

oleh

Empat Lawang, Sumsel. CN – Dalam rangka memperingati HUT Partai Demokrat yang ke-25, jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kabupaten Empat Lawang memilih cara yang penuh berkah dan sosial: menyambangi Pondok Pesantren Daarul Mahabbah serta menyerahkan bantuan secara langsung kepada para santri, Minggu (16/08/2026).

 

example banner

Kegiatan silaturahmi sosial ini menjadi bukti nyata bahwa perayaan ulang tahun partai tidak hanya soal seremonial, melainkan wujud kepedulian dan kebersamaan dengan anak-anak bangsa yang sedang menuntut ilmu di jalan Allah SWT.

 

Rombongan DPC Demokrat Empat Lawang disambut hangat oleh pengelola pondok pesantren dan para santri. Suasana berlangsung khidmat dan penuh keakraban. Pengurus partai berkeliling menyapa para santri, berdialog secara kekeluargaan, serta mendengarkan harapan dan kebutuhan yang ada di lingkungan pondok pesantren tersebut.

BACA  Kecamatan Empat Ptulai Dangku upacara Hut Ke RI Ke 81 Kabupaten Muara Enim

 

Dalam kesempatan itu, Ketua maupun jajaran pengurus DPC Demokrat Empat Lawang menyampaikan bahwa kunjungan ini adalah wujud nyata perhatian partai terhadap dunia pendidikan, khususnya lembaga pendidikan Islam yang menjadi tumpuan generasi berakhlak mulia.

 

“HUT Demokrat ke-25 ini kami maknai bukan dengan pesta meriah, melainkan dengan berbagi kebahagiaan kepada anak-anak santri. Kami ingin hadir di tengah mereka, memberi semangat, dan meringankan beban sedikit demi kebaikan bersama,” ujar perwakilan DPC Demokrat Empat Lawang.

BACA  Video Pekerja Tanpa APD Beredar, Outsourcing PTPN IV Bah Butong Ungkap 4 Dugaan Persoalan SIMALUNGUN I CN Persoalan tenaga kerja outsourcing di Pabrik Teh PTPN IV Regional II Bah Butong, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, kembali menjadi sorotan. Informasi awal mencuat setelah beredar video di media sosial yang memperlihatkan pekerja diduga melakukan aktivitas pekerjaan tanpa dilengkapi Alat Pelindung Diri (APD). Dari sorotan tersebut, redaksi SemiMedia kemudian menerima pesan pribadi melalui Messenger dari seorang pekerja outsourcing yang mengungkap sejumlah dugaan persoalan di lingkungan kerja. Pekerja tersebut meminta identitasnya dirahasiakan karena khawatir terhadap konsekuensi di tempat kerja. Dalam keterangannya kepada redaksi, sedikitnya terdapat empat persoalan yang disebut merugikan pekerja outsourcing. Lembur Dipertanyakan, Pekerja Mengaku Tak Mendapat Penjelasan Transparan Persoalan pertama menyangkut upah lembur. Pekerja mengaku tidak mengetahui secara jelas bagaimana perhitungan upah lembur dilakukan. Ketika perhitungan tersebut dipertanyakan, pekerja mengaku justru mendapatkan ancaman atau tekanan. Padahal, Kementerian Ketenagakerjaan menjelaskan bahwa kerja lembur memiliki ketentuan mengenai batas waktu dan pembayaran upah lembur. Karena itu, jika terdapat perbedaan antara jam kerja yang dijalani dengan pembayaran yang diterima, persoalan tersebut patut diperiksa melalui dokumen resmi perusahaan. Disebut Bisa Bekerja Hingga 22 Jam Persoalan kedua jauh lebih serius. Pekerja mengaku, ketika jumlah pucuk teh yang harus dikerjakan mencapai lebih dari 100 ton per hari, mereka bisa bekerja hingga sekitar 22 jam. Keterangan ini tentu membutuhkan verifikasi. Namun apabila benar terjadi, kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena menyangkut batas waktu kerja, waktu istirahat, keselamatan dan kesehatan pekerja. Kementerian Ketenagakerjaan sendiri menjelaskan bahwa ketentuan kerja lembur memiliki batas tertentu dan pada prinsipnya pekerja harus memperoleh waktu istirahat yang cukup. Pertanyaannya: siapa yang mengawasi pencatatan jam kerja pekerja outsourcing di Bah Butong? APD Disebut Harus Beli Sendiri Persoalan ketiga kembali menyangkut keselamatan kerja. Pekerja mengaku APD tidak pernah diberikan secara rutin oleh pihak pabrik sehingga mereka harus membeli sendiri perlengkapan keselamatan. Yang lebih miris, menurut pengakuannya, APD baru dipinjamkan ketika ada tamu datang ke pabrik. Setelah kunjungan selesai, APD tersebut disebut harus dikembalikan. Jika keterangan tersebut benar, kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan serius. Apakah APD disediakan untuk melindungi pekerja, atau hanya digunakan ketika perusahaan menerima kunjungan? Temuan ini juga perlu diklarifikasi karena penelitian terdahulu mengenai keselamatan kerja di Unit Bah Butong mencatat adanya program keselamatan, termasuk penyediaan APD, pelatihan keselamatan dan inspeksi peralatan kerja. Artinya, jika pekerja outsourcing saat ini mengaku harus membeli APD sendiri, perlu dijelaskan bagaimana implementasi SOP dan sistem K3 perusahaan terhadap tenaga outsourcing. Premi Disebut Hanya Diterima Separuh Persoalan keempat menyangkut premi kerja. Pekerja mengaku mereka memiliki hari libur setiap Senin. Ketika harus masuk bekerja, pembayaran disebut menggunakan sistem premi. Menurut pengakuannya, pernah ada informasi dari pihak pusat bahwa perhitungan premi pekerja outsourcing akan disamakan dengan karyawan pabrik. Namun, pekerja mengklaim premi yang diterima hanya sekitar setengah dari premi karyawan pabrik, sementara sisanya tidak diketahui ke mana. Jika benar terdapat perbedaan antara hak yang dijanjikan atau diperjanjikan dengan pembayaran yang diterima, maka transparansi perhitungan menjadi penting untuk diperiksa. Berapa sebenarnya premi yang menjadi hak pekerja? Berapa yang dibayarkan? Dan atas dasar aturan atau perjanjian apa perhitungannya? Kini Bukan Lagi Sekadar Persoalan APD Empat pengakuan tersebut membuat persoalan outsourcing di Bah Butong semakin serius. Sebelumnya, sorotan publik tertuju pada video pekerja yang diduga bekerja tanpa APD. Setelah itu muncul informasi mengenai dugaan tekanan terhadap pekerja dan pemindahan seorang pekerja ke bagian Afd. Kini muncul pula dugaan persoalan upah lembur, jam kerja sangat panjang, penyediaan APD, dan pembayaran premi. Rangkaian informasi tersebut tentu tidak boleh langsung dianggap sebagai fakta yang telah terbukti. Namun, cukup menjadi alasan bagi instansi berwenang untuk melakukan pemeriksaan dan mencocokkan pengakuan pekerja dengan dokumen perusahaan. Pengawas Ketenagakerjaan Diminta Turun Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Utara melalui Pengawas Ketenagakerjaan dinilai perlu melakukan pemeriksaan langsung. Pemeriksaan dapat mencakup daftar hadir, rekaman jam kerja, perhitungan dan pembayaran lembur, perjanjian kerja outsourcing, bukti pembayaran premi, serta dokumen penyediaan APD. Publik tidak membutuhkan sekadar bantahan. Yang dibutuhkan adalah transparansi dan pembuktian berdasarkan dokumen. Sebagai perusahaan milik negara, PTPN IV Regional II Bah Butong semestinya menjadi contoh dalam penerapan keselamatan kerja dan perlindungan tenaga kerja. Manajemen Belum Memberikan Klarifikasi Hingga berita ini ditayangkan, pihak manajemen PTPN IV Regional II Bah Butong belum memberikan klarifikasi resmi kepada redaksi terkait empat dugaan persoalan yang disampaikan pekerja tersebut. SemiMedia.co.id tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak manajemen maupun perusahaan penyedia tenaga outsourcing. Catatan Redaksi: Empat persoalan di atas merupakan keterangan seorang pekerja outsourcing yang disampaikan kepada redaksi melalui pesan pribadi. Redaksi belum menyimpulkan adanya pelanggaran dan masih menunggu verifikasi serta pemeriksaan dari pihak berwenang. HP. S/FB. S

 

Puncak kegiatan ditandai dengan penyerahan bantuan secara langsung kepada para santri. Bantuan yang diserahkan berupa kebutuhan pendidikan dan kebutuhan harian yang diharapkan dapat membantu meringankan beban pondok pesantren sekaligus memotivasi para santri agar semakin semangat menimba ilmu.

 

Pihak pengelola Pondok Pesantren Daarul Mahabbah menyambut baik dan mengucapkan terima kasih atas perhatian serta kunjungan DPC Demokrat Empat Lawang. Semoga langkah baik ini menjadi amal jariyah yang terus mengalir kebaikannya.

BACA  Perkuat Profesionalisme Dan Integritas Jurnalis di Era Digital, DPD PWMOI Kota Tebing Tinggi Gelar Konsolidasi Sekaligus Silaturahmi

 

Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen Partai Demokrat di Kabupaten Empat Lawang untuk selalu hadir, mendengar, dan berkontribusi nyata di tengah masyarakat. Melalui pendekatan sosial dan keagamaan ini, Demokrat ingin terus tumbuh bersama rakyat, menjaga kerukunan, dan memperkuat persatuan di bumi Empat Lawang tercinta.

 

Semoga perjalanan 25 tahun Partai Demokrat senantiasa diberkahi, bermanfaat bagi nusa dan bangsa, serta semakin kokoh berdiri bersama rakyat.

No More Posts Available.

No more pages to load.