Selayar.CN- Pawai Taptu dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Kepulauan Selayar berlangsung aman, tertib, semarak dan penuh semangat, Minggu malam, 16 Agustus 2026. Sebanyak 70 kelompok turut ambil bagian, dengan setiap kelompok diikuti puluhan hingga ratusan peserta yang menampilkan beragam kreativitas dan latar belakang.
Pawai dilepas dari titik awal oleh Bupati Kepulauan Selayar H. Muhammad Natsir Ali. Dari lokasi pelepasan, peserta bergerak menyusuri Jalan Kelapa, Jalan WR. Supratman, Jalan Ki Hajar Dewantara, Jalan Robert Wolter Monginsidi hingga finis di Lapangan Pemuda Benteng.
Untuk memastikan seluruh rangkaian berjalan aman dan lancar, Polres Kepulauan Selayar mengerahkan 56 personel dalam pengamanan Pawai Taptu. Personel tidak hanya berada di lokasi kegiatan, tetapi ditempatkan pada sejumlah titik strategis dan persimpangan di sepanjang jalur yang dilalui peserta.
Pengamanan dan pengaturan lalu lintas dilakukan mulai dari kawasan titik pelepasan, sejumlah persimpangan di Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Kelapa, Jalan WR. Supratman, Jalan Mangga, Jalan Kemiri, Jalan Ki Hajar Dewantara, Jalan Diponegoro hingga kawasan sekitar Lapangan Pemuda Benteng. Personel juga disiagakan pada sejumlah titik yang menjadi pertemuan arus kendaraan dan konsentrasi masyarakat.
Penempatan personel di berbagai sudut jalan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kepadatan arus lalu lintas, memberikan ruang bagi iring-iringan peserta dan memastikan masyarakat yang menyaksikan pawai tetap merasa aman dan nyaman.
Kapolres Kepulauan Selayar AKBP Didid Imawan hadir langsung menyaksikan jalannya Pawai Taptu bersama Bupati Kepulauan Selayar H. Muhammad Natsir Ali, Wakil Bupati Drs. H. Muhtar, M.M., jajaran Forkopimda, Ketua TP PKK Kabupaten Kepulauan Selayar, Pj. Sekda beserta jajaran dan sejumlah undangan lainnya.
Dari sisi pengamanan, Kapolres turut memantau langsung situasi di sepanjang rangkaian kegiatan dan menyaksikan antusiasme peserta serta masyarakat yang memadati sejumlah ruas jalan.
“Alhamdulillah, pelaksanaan Pawai Taptu malam ini berlangsung aman, tertib, lancar, semarak dan penuh semangat. Terima kasih kepada seluruh peserta dan masyarakat yang telah ikut menjaga keamanan dan ketertiban sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik,” ujar AKBP Didid Imawan.
Kapolres juga memberikan apresiasi kepada seluruh personel yang terlibat dalam pengamanan, khususnya personel yang ditempatkan di berbagai persimpangan dan ruas jalan sepanjang jalur pawai.
“Terima kasih kepada seluruh personel Polres Kepulauan Selayar yang telah melaksanakan tugas dengan baik. Mereka berada di titik-titik pengamanan, mengatur arus lalu lintas dan memastikan jalannya pawai tetap aman. Ini adalah bagian dari pelayanan Polri kepada masyarakat,” katanya.
BACA Video Pekerja Tanpa APD Beredar, Outsourcing PTPN IV Bah Butong Ungkap 4 Dugaan Persoalan SIMALUNGUN I CN Persoalan tenaga kerja outsourcing di Pabrik Teh PTPN IV Regional II Bah Butong, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, kembali menjadi sorotan. Informasi awal mencuat setelah beredar video di media sosial yang memperlihatkan pekerja diduga melakukan aktivitas pekerjaan tanpa dilengkapi Alat Pelindung Diri (APD). Dari sorotan tersebut, redaksi SemiMedia kemudian menerima pesan pribadi melalui Messenger dari seorang pekerja outsourcing yang mengungkap sejumlah dugaan persoalan di lingkungan kerja. Pekerja tersebut meminta identitasnya dirahasiakan karena khawatir terhadap konsekuensi di tempat kerja. Dalam keterangannya kepada redaksi, sedikitnya terdapat empat persoalan yang disebut merugikan pekerja outsourcing. Lembur Dipertanyakan, Pekerja Mengaku Tak Mendapat Penjelasan Transparan Persoalan pertama menyangkut upah lembur. Pekerja mengaku tidak mengetahui secara jelas bagaimana perhitungan upah lembur dilakukan. Ketika perhitungan tersebut dipertanyakan, pekerja mengaku justru mendapatkan ancaman atau tekanan. Padahal, Kementerian Ketenagakerjaan menjelaskan bahwa kerja lembur memiliki ketentuan mengenai batas waktu dan pembayaran upah lembur. Karena itu, jika terdapat perbedaan antara jam kerja yang dijalani dengan pembayaran yang diterima, persoalan tersebut patut diperiksa melalui dokumen resmi perusahaan. Disebut Bisa Bekerja Hingga 22 Jam Persoalan kedua jauh lebih serius. Pekerja mengaku, ketika jumlah pucuk teh yang harus dikerjakan mencapai lebih dari 100 ton per hari, mereka bisa bekerja hingga sekitar 22 jam. Keterangan ini tentu membutuhkan verifikasi. Namun apabila benar terjadi, kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena menyangkut batas waktu kerja, waktu istirahat, keselamatan dan kesehatan pekerja. Kementerian Ketenagakerjaan sendiri menjelaskan bahwa ketentuan kerja lembur memiliki batas tertentu dan pada prinsipnya pekerja harus memperoleh waktu istirahat yang cukup. Pertanyaannya: siapa yang mengawasi pencatatan jam kerja pekerja outsourcing di Bah Butong? APD Disebut Harus Beli Sendiri Persoalan ketiga kembali menyangkut keselamatan kerja. Pekerja mengaku APD tidak pernah diberikan secara rutin oleh pihak pabrik sehingga mereka harus membeli sendiri perlengkapan keselamatan. Yang lebih miris, menurut pengakuannya, APD baru dipinjamkan ketika ada tamu datang ke pabrik. Setelah kunjungan selesai, APD tersebut disebut harus dikembalikan. Jika keterangan tersebut benar, kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan serius. Apakah APD disediakan untuk melindungi pekerja, atau hanya digunakan ketika perusahaan menerima kunjungan? Temuan ini juga perlu diklarifikasi karena penelitian terdahulu mengenai keselamatan kerja di Unit Bah Butong mencatat adanya program keselamatan, termasuk penyediaan APD, pelatihan keselamatan dan inspeksi peralatan kerja. Artinya, jika pekerja outsourcing saat ini mengaku harus membeli APD sendiri, perlu dijelaskan bagaimana implementasi SOP dan sistem K3 perusahaan terhadap tenaga outsourcing. Premi Disebut Hanya Diterima Separuh Persoalan keempat menyangkut premi kerja. Pekerja mengaku mereka memiliki hari libur setiap Senin. Ketika harus masuk bekerja, pembayaran disebut menggunakan sistem premi. Menurut pengakuannya, pernah ada informasi dari pihak pusat bahwa perhitungan premi pekerja outsourcing akan disamakan dengan karyawan pabrik. Namun, pekerja mengklaim premi yang diterima hanya sekitar setengah dari premi karyawan pabrik, sementara sisanya tidak diketahui ke mana. Jika benar terdapat perbedaan antara hak yang dijanjikan atau diperjanjikan dengan pembayaran yang diterima, maka transparansi perhitungan menjadi penting untuk diperiksa. Berapa sebenarnya premi yang menjadi hak pekerja? Berapa yang dibayarkan? Dan atas dasar aturan atau perjanjian apa perhitungannya? Kini Bukan Lagi Sekadar Persoalan APD Empat pengakuan tersebut membuat persoalan outsourcing di Bah Butong semakin serius. Sebelumnya, sorotan publik tertuju pada video pekerja yang diduga bekerja tanpa APD. Setelah itu muncul informasi mengenai dugaan tekanan terhadap pekerja dan pemindahan seorang pekerja ke bagian Afd. Kini muncul pula dugaan persoalan upah lembur, jam kerja sangat panjang, penyediaan APD, dan pembayaran premi. Rangkaian informasi tersebut tentu tidak boleh langsung dianggap sebagai fakta yang telah terbukti. Namun, cukup menjadi alasan bagi instansi berwenang untuk melakukan pemeriksaan dan mencocokkan pengakuan pekerja dengan dokumen perusahaan. Pengawas Ketenagakerjaan Diminta Turun Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Utara melalui Pengawas Ketenagakerjaan dinilai perlu melakukan pemeriksaan langsung. Pemeriksaan dapat mencakup daftar hadir, rekaman jam kerja, perhitungan dan pembayaran lembur, perjanjian kerja outsourcing, bukti pembayaran premi, serta dokumen penyediaan APD. Publik tidak membutuhkan sekadar bantahan. Yang dibutuhkan adalah transparansi dan pembuktian berdasarkan dokumen. Sebagai perusahaan milik negara, PTPN IV Regional II Bah Butong semestinya menjadi contoh dalam penerapan keselamatan kerja dan perlindungan tenaga kerja. Manajemen Belum Memberikan Klarifikasi Hingga berita ini ditayangkan, pihak manajemen PTPN IV Regional II Bah Butong belum memberikan klarifikasi resmi kepada redaksi terkait empat dugaan persoalan yang disampaikan pekerja tersebut. SemiMedia.co.id tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak manajemen maupun perusahaan penyedia tenaga outsourcing. Catatan Redaksi: Empat persoalan di atas merupakan keterangan seorang pekerja outsourcing yang disampaikan kepada redaksi melalui pesan pribadi. Redaksi belum menyimpulkan adanya pelanggaran dan masih menunggu verifikasi serta pemeriksaan dari pihak berwenang. HP. S/FB. S
Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan Taptu tidak hanya dilihat dari kemeriahan kegiatan, tetapi juga bagaimana seluruh peserta dan masyarakat dapat mengikuti serta menyaksikan kegiatan dengan aman dan nyaman.
“Malam Taptu bukan sekadar pawai membawa obor. Ini merupakan tradisi yang mengingatkan kita pada semangat perjuangan para pendahulu, menumbuhkan rasa cinta tanah air dan mempererat persatuan. Karena itu, kita ingin seluruh masyarakat dapat menikmati momentum ini dengan aman dan penuh kebersamaan,” ujar Kapolres.
Tahun ini, jumlah peserta mencapai 70 kelompok, meningkat dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 39 barisan. Setiap kelompok membawa puluhan hingga ratusan peserta, sehingga jumlah masyarakat yang terlibat dalam pawai malam itu sangat besar.
Semarak kegiatan semakin terasa dengan beragam penampilan peserta. Berbagai profesi dan latar belakang masyarakat ditampilkan dalam barisan, mulai dari tentara, polisi, dokter, perawat, petani, pelajar, mahasiswa, veteran, pejabat hingga pejuang.
Kreativitas peserta bahkan hadir dalam bentuk parodi. Sejumlah kelompok tampil mengenakan kostum pocong, kuntilanak, topeng monyet dan berbagai karakter lainnya. Ada pula peserta yang mengenakan seragam menyerupai pakaian Bupati Kepulauan Selayar.
Keberagaman tersebut membuat Pawai Taptu tahun ini tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi pertunjukan rakyat yang mempertemukan semangat nasionalisme dengan kreativitas masyarakat.
Dari panggung kehormatan, Wakil Bupati Kepulauan Selayar Drs. H. Muhtar, M.M., jajaran Forkopimda, Ketua TP PKK Kabupaten Kepulauan Selayar, Pj. Sekda beserta jajaran dan sejumlah undangan turut menyaksikan kemeriahan pawai.
Cahaya obor yang dibawa puluhan kelompok menerangi jalan-jalan Kota Benteng. Di sepanjang rute, masyarakat antusias menyaksikan iring-iringan peserta yang tampil dengan karakter berbeda-beda.
Kapolres menilai keberagaman tersebut menjadi gambaran bagaimana masyarakat dapat merayakan kemerdekaan dalam suasana kebersamaan.
“Boleh berbeda profesi, berbeda latar belakang dan berbeda cara mengekspresikan kegembiraan, tetapi semuanya berada dalam satu barisan. Inilah semangat persatuan yang harus terus kita rawat,” ungkapnya.
Ia kembali menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta, masyarakat, panitia dan jajaran personel pengamanan yang telah bersama-sama menjaga ketertiban.
“Alhamdulillah, malam Taptu tahun ini kita lalui bersama dengan aman, semarak dan penuh semangat. Semoga semangat kebersamaan ini terus kita bawa dalam mengisi kemerdekaan dan membangun Kabupaten Kepulauan Selayar,” tutup Kapolres.
Pawai Taptu berakhir di Lapangan Pemuda Benteng. Tradisi yang digelar pada malam menjelang 17 Agustus tersebut menjadi salah satu rangkaian penting menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI, sekaligus memperlihatkan kuatnya partisipasi masyarakat dalam merawat semangat perjuangan dan persatuan di Kabupaten Kepulauan Selayar.( Ucok Haidir )