TEBO, Cakrawala Nusantara Id — Upaya penelusuran rekam jejak peradaban kuno di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari kembali menemui titik terang. Pada Sabtu (3/10/2026), tim sejarawan dan peneliti Jambi melakukan peninjauan serta pendeteksian lapangan di Situs Candi Teluk Kuali, Desa Teluk Kuali, Kabupaten Tebo, sekaligus menelusuri jejak Makam Syekh Ahmad Sungai Macang.
Dari hasil pendeteksian awal dan pemetaan di titik lokasi situs, tim sejarawan mengonfirmasi keberadaan struktur bangunan candi era Hindu yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-8 Masehi. Penemuan ini memperkuat indikasi bahwa Desa Teluk Kuali dahulu merupakan salah satu pusat peradaban penting dan simpul perdagangan kuno di kawasan hulu DAS Batanghari.
Dalam peninjauannya, Dr. Drs. Yusdi Anra, M.Pd., menegaskan nilai strategis dari keberadaan cagar budaya ini bagi peta sejarah regional.
”Benar, ini untuk sementara teridentifikasi sebagai candi dari zaman Hindu yang diperkirakan berasal dari abad ke-8 Masehi. Di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari memang masih banyak cagar budaya yang belum ditemukan dan perlu diungkap,” ujar Dr. Yusdi Anra di lokasi situs.
Sementara itu, peneliti Pusat Data Artefak dan Sejarah Nusantara (PUDAS) Jambi, Via Dicky, menyampaikan bahwa potensi kawasan ini sangat besar dan menyimpan banyak misteri masa lampau yang belum terpecahkan.
”Diperkirakan lahan kompleks candi ini mencapai luas sekitar dua hektar dan masih banyak misteri yang belum terungkap. Ini adalah sebuah temuan yang cukup luar biasa. Tergantung keseriusan pihak desa dan pemerintah lagi untuk menindaklanjutinya, karena kompleks candi ini tergolong cukup lumayan luas,” jelas Via Dicky.
Jejak Ulama Abad ke-13 dan Catatan Ekspedisi Arkeologi
Selain mengidentifikasi struktur candi, tim peneliti juga mengamati tipologi batu nisan Makam Syekh Ahmad Sungai Macang di kawasan Desa Teluk Kuali. Berdasarkan analisis awal, keberadaan Syekh Ahmad diestimasikan berasal dari abad ke-13 Masehi. Nisan berkarakteristik Islam tersebut memperkuat petunjuk bahwa Syekh Ahmad merupakan seorang ulama besar penyebar agama Islam pada zamannya.
Mengingat alur masuknya Islam di Pulau Sumatra berpusat di kawasan Samudera Pasai, Aceh, tim peneliti menyimpulkan bahwa Syekh Ahmad merupakan tokoh Muslim beretnis Melayu—leluhur yang memiliki garis keterkaitan erat dengan masyarakat Desa Teluk Kuali saat ini.
Jauh sebelum era modern, kawasan hulu Batanghari memang telah menjadi simpul penting peradaban Melayu kuno. Catatan ekspedisi arkeolog Belanda, Frederic David Schnitger, pada tahun 1935 dan 1936 menjadi salah satu pintu masuk utama dalam memetakan jejak kebudayaan Hindu-Buddha di wilayah pedalaman Jambi, khususnya di kawasan Teluk Kuali.
Dalam laporan sejarah dan arkeologi, terdapat beberapa catatan utama yang menjadi dasar penelusuran:
Penemuan Gundukan Bata Merah (Heaps of Bricks)
Schnitger mencatat keberadaan gundukan-gundukan bata merah kuno di sepanjang aliran tengah hingga hulu Batanghari, dengan titik penting di Teluk Kuali, Tanah Periuk, dan Betung Berdarah. Temuan awal ini menjadi fondasi bagi Dinas Purbakala Indonesia untuk menggelar ekspedisi resmi ke Candi Teluk Kuali pada Maret 1954 di bawah pimpinan arkeolog senior R. Soekmono.
Jejak Ikonografi Hindoo-Sumatra
Artefak fisik yang ditemukan memperlihatkan corak keagamaan Hindu-Buddha yang mapan. Pada tahun 1975, warga setempat juga sempat menemukan arca/patung kuno yang diperkirakan berasal dari abad ke-8 Masehi
Melihat luasnya kawasan kompleks candi yang mencapai dua hektar serta nilai sejarah keagamaan di dalamnya, potensi Situs Candi Teluk Kuali dan Makam Syekh Ahmad untuk ditetapkan sebagai Cagar Budaya Provinsi Jambi terbuka lebar.
Tokoh agama, tokoh adat, serta masyarakat Desa Teluk Kuali yang diwakili oleh Datuk Syopian (Wakil Ketua Lembaga Adat ALAM Desa Teluk Kuali sekaligus Datuk Mangku Simpang Lopon menaruh harapan besar kepada Bupati dan Wakil Bupati Tebo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Tebo untuk segera turun tangan memugar, meneliti, serta menelusuri secara mendalam keberadaan situs candi dan makam bersejarah tersebut.
Masyarakat kini menunggu langkah konkret Pemerintah Kabupaten Tebo agar peninggalan bersejarah ini dapat diselamatkan dari kehausan zaman, diteliti secara komprehensif, dan dikembangkan demi kelestarian warisan budaya Nusantara.
(Teno Jabrik)












