Prabumulih CN Hidup dalam Penantian Menuju Kematian
Mukaddimah
Jamaah yang dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, serta kesempatan untuk terus memperbaiki diri.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Di tengah kesibukan dunia yang sering kali melalaikan, mari sejenak kita merenungkan satu kepastian yang mutlak akan dihadapi oleh setiap makhluk bernyawa, yaitu kematian.
Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah gerbang perpindahan menuju kehidupan yang abadi.
Pertanyaannya bukan kapan kita akan mati, melainkan sudah sejauh mana kesiapan kita menghadapinya.
Hakikat Waktu dan Kesadaran Diri
Banyak dari kita yang merasa waktu berjalan begitu lambat saat menunggu sesuatu, namun terasa begitu cepat ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa usia kita terus berkurang.
Hari demi hari berlalu, tanpa sadar kita semakin dekat dengan garis akhir kehidupan di dunia.
Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur’an melalui Surah Ali ‘Imran ayat 185:
*Kullu nafsin dā-iqatul-maut, wa innamā tuwaffauṇa ujūrakum yaumal-qiyāmah, fa man zuhziḥa ‘an-nāri wa udkhilal-jannata fa qad fāz, wa mal-ḥayātud-dunyā illā matā‘ul-ġurūr.*
Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185).
Ayat ini menegaskan bahwa dunia hanyalah tempat transit dan sementara. Kesadaran akan kematian (awareness of death) seharusnya bukan membuat kita menjadi pribadi yang putus asa atau pesimis, justru sebaliknya.
menjadikan kita lebih produktif, berhati-hati, dan bermakna dalam setiap detik kehidupan.
Rasulullah SAW: Menjadi Orang yang Cerdas
Orang yang sadar akan datangnya ajal adalah orang yang cerdas.
Rasulullah SAW pernah mendefinisikan orang yang paling cerdas dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:
Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi SAW, beliau bersabda:
*”Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengoreksi dirinya (mengevaluasi amal) dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya, namun berangan-angan kepada Allah dengan angan-angan kosong.” (HR. Tirmidzi).*
Ketika seseorang menyadari bahwa ajalnya bisa datang kapan saja, ia akan memperlakukan hari ini seolah-olah ini adalah kesempatan terakhirnya untuk berbuat baik.
Ia akan:
Memperbaiki hubungan dengan Allah (Hablun minallah) melalui ibadah yang khusyuk dan tulus.
Memperbaiki hubungan dengan sesama manusia (Hablun minannas) dengan menjaga lisan, menebar kebaikan, serta saling memaafkan.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mari jadikan setiap hembusan napas kita sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jangan tunda kebaikan, dan segeralah bertaubat dari segala kesalahan.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing hati kita agar senantiasa sadar, istiqamah dalam ketaatan, dan menutup usia kita dalam keadaan husnul khatimah.
Barakallahu lii wa lakum…
Editor: Salahudin Ak










