Ratusan wartawan Indramayu Adakan Aksidamai Di Pendopo Indramayu Indramayu,

oleh
oleh

Indramayu Cakrawalanusantara. id Ratusan wartawan dari 21 organisasi pers di Indramayu menggelar aksi damai di depan Pendopo kabupaten Indramayu Mereka bersatu menolak keras kebijakan pengosongan Gedung Graha Pers Indramayu (GPI) di Jalan MT. Haryono Sindang, yang dinilai sepihak dan tanpa dialog.

Tuntutan utama mereka adalah pencabutan surat pengosongan GPI yang dikeluarkan oleh sekda IndramayuAep Surahman dengan menggunakan kop dan ditandatangai dan di cap oleh sekda Aep.

example banner

Aksi ini merupakan puncak kekecewaan insan pers Indramayu atas keputusan pemerintah daerah yang dianggap arogan dan tidak menghargai profesi jurnalis. Gedung GPI selama ini menjadi markas dan pusat kegiatan bagi berbagai organisasi wartawan di Indramayu selama kurang lebih 40 tahun sejak tahun 1985.

Chong Soneta, Ketua Forum Perjuangan Wartawan Indramayu (FPWI), mengungkapkan kekesalannya yang mendalam terhadap tindakan Bupati Luck Hakim. Ia menuding bupati bertindak kejam dan tanpa perasaan karena mengusir 21 organisasi wartawan dari GPI tanpa musyawarah.

BACA  Polisi Cinta Petani, Polsek Tapung Hulu Salurkan Bibit Jagung untuk Kelompok Tani di Bukit Kemuning

Menurut salah seorang peserta aksi yang juga sebagai ketua organisasi wartwan mengatakan apakah ini ada dendam, politik” ujar Chong Soneta.

“Dulu memang pernah sebagian wartawan saat pilkada terbelah menjadi dua, yaitu antara Nina Agustina dan Luck Hakim. Tapi perlu diketahui juga kami sebagai media tetap independen. Dan satu lagi ada salah satu oknum yang menjadi penghianat dalam tubuh insan pers, semua pasti sudah tahu tidak perlu dijelaskan.”

Senada dengan itu, Atim Sawano, Ketua IWOI, dengan tegas menyatakan penolakan 21 organisasi untuk keluar dari Graha Pers Indramayu. Ia menilai Pemda Indramayu arogan dan melakukan pelecehan terhadap para jurnalis.

BACA  Sumut Tuan Rumah, El Adrian Shah Ajak Masyarakat Meriahkan Piala AFF U-19.

Seharusnya seorang Pemimpin tidak boleh memiliki jiwa pendendam dan sombong pilkada sudah lewat yang lalu biarlah berlalu berbeda pilihan wajar karena itu hak masing masing.

Siapun yang jadi siapapun pemimpinnya harus merangkul karena itu adalah masyarakatnya kita ajak bersama sama membangun Indramayu.

Jangan sebaliknya menjadi sombong untuk itu kami semua menolak keras pengosongan gedung GPI akan kita pertahankan hanya ada satu kata harus kita lawan,” tegas Atim ujar Atim.

Dengan tiba tiba datang surat kegedung GPI harus mengosongkan GPI tanpa diundang dulu ketua Organisasi untuk mediasi dahulu,pemimpin kok gayanya kaya preman preman saja.”

Dalam orasi di tengah kerumunan wartawan, berbagai pandangan dan seruan untuk melawan kebijakan sepihak ini pun dilontarkan. Hendra Sumiarsa, salah seorang wartawan, menyerukan agar kaum intelektual menghadapi masalah ini dengan kepala dingin, namun juga menegaskan bahwa ada saatnya perlawanan dilakukan secara jurnalis. “Toh pasti mereka (Bupati) pasti tidak bersih-bersih amat,” sindirnya.

BACA  Kapolres Langkat Terima Penghargaan Dari Syarikat Islam, Wujud Sinergi Polri Dan Ulama Menjaga Kamtibmas

Sementara itu, Tomi Susanto dengan lantang menyerukan agar para wartawan menduduki Pendopo Indramayu sampai ada titik temu dan solusi yang memuaskan.

Aksi unjuk rasa ini menunjukkan soliditas dan kekompakan insan pers Indramayu dalam mempertahankan hak dan martabat mereka. Para wartawan berharap Bupati Luck Hakim dapat meninjau kembali kebijakannya dan membuka ruang dialog untuk mencari solusi terbaik terkait nasib Gedung Graha Pers Indramayu.

(Nana. S)

No More Posts Available.

No more pages to load.