Dibalik Bantuan 20 Sapi PTPN lV Regional lll. Terselip Harapan dan Kegelisahan Warga

oleh
oleh

Kampar,-CN -Di halaman desa yang sederhana, puluhan warga berkumpul menyambut kedatangan bantuan 20 ekor sapi dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Regional III. Senyum terlihat, namun tak semua hati benar-benar tenang.

Bantuan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) itu diserahkan kepada dua desa, Talang Danto dan Kasikan, sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat sekitar.

example banner

Bagi sebagian warga, ini adalah harapan baru.

“Kalau dikelola baik, ini bisa jadi sumber ekonomi ke depan,” ujar salah satu warga dengan nada optimis.

Namun di balik itu, ada cerita lain yang tak kalah penting—cerita tentang sungai yang berubah, dan kehidupan yang ikut terdampak.

BACA  Dipimpin Kasat Narkoba, Lima Tersangka Penyalahgunaan Narkotika Dibekuk, Satu Oknum P3K Paruh Waktu

Ketika Sungai Tak Lagi Sama

Beberapa waktu terakhir, masyarakat di dua desa tersebut merasakan perubahan pada aliran Sungai Tapung. Air yang dulu menjadi sumber kehidupan, kini disebut tak lagi seperti dulu.

Warga menduga adanya pencemaran limbah dari aktivitas pabrik kelapa sawit (PKS) di sekitar wilayah mereka.

Perubahan itu bukan sekadar soal lingkungan, tapi juga soal dapur yang harus tetap mengepul.

Suara yang Tak Selalu Terdengar

Di antara kerumunan, para nelayan berdiri dengan perasaan campur aduk. Mereka datang, melihat, tapi menyimpan pertanyaan.

Pak Dedy, salah satu nelayan Desa Kasikan, menyampaikan kegelisahannya dengan sederhana namun dalam.

BACA  Kapolres Kampar Pimpin Apel Karhutla, 27 Unit Peralatan Siap Siaga, Tidak Ada yang Rusak

“Kami ini hidup dari sungai. Kalau sungai bermasalah, kami juga ikut susah. Jadi kami bingung, bantuan ini bagaimana bisa membantu kami,” ujarnya.

Bagi sekitar 30 nelayan di wilayah itu, sungai bukan sekadar air yang mengalir—melainkan sumber penghidupan yang tak tergantikan.

Pesan dari Desa: Jangan Hanya Datang Saat Ada Masalah

Kepala Desa Talang Danto/Kasikan, Al. Hudri, juga menyampaikan harapan yang lebih luas. Ia menginginkan hubungan yang berkelanjutan antara perusahaan dan masyarakat.

“Kami ingin perhatian itu terus ada, bukan hanya saat terjadi masalah. Karena kita ini hidup berdampingan,” katanya.

Menurutnya, bantuan sapi akan dikelola secara bersama oleh desa, dengan harapan bisa menjadi langkah awal pemberdayaan ekonomi masyarakat.

BACA  Polsek XIII Koto Kampar Amankan Pelaku Pencurian yang Juga Diduga Penyalahgunaan Shabu, Barang Bukti Diserahkan ke Satresnarkoba

Antara Bantuan dan Harapan yang Lebih Besar

Bantuan 20 ekor sapi kini telah diterima. Di satu sisi, ia menjadi simbol kepedulian. Di sisi lain, ia juga membuka ruang dialog yang lebih besar tentang kebutuhan masyarakat yang sebenarnya.

Warga berharap, perhatian tidak berhenti pada bantuan semata, tetapi juga menyentuh akar persoalan—memulihkan lingkungan, menjaga sungai, dan memastikan kehidupan tetap berjalan.

Karena bagi mereka, yang dibutuhkan bukan hanya bantuan untuk hari ini, tapi juga jaminan untuk hari esok.

Sumber: Pers Keadilan Tapung Hulu

Editor R Gulo

No More Posts Available.

No more pages to load.