Medan.CN- Di tengah gelombang keresahan yang sempat mengarah pada aksi turun ke jalan, sebuah keputusan penting akhirnya diambil. Rencana itu dibatalkan. Namun, seperti ditegaskan Ustadz Nabawi, yang surut hanyalah langkah kaki di jalanan—bukan suara hati masyarakat Belawan.
“Perjuangan ini bukan tentang siapa yang paling keras berteriak di jalan, tapi siapa yang paling tulus memperjuangkan kebenaran,” ucapnya, lirih namun tegas.
Sebagai gantinya, Porkofinda Kota Medan akan menggelar forum diskusi, sebuah ruang yang diharapkan mampu menampung kegelisahan warga sekaligus menjembatani harapan yang selama ini terasa jauh dari genggaman. Waktu dan tempat memang belum ditentukan, tetapi pesan yang dibawa sudah jelas: dialog harus hidup, dan suara rakyat harus didengar.
Di sisi lain, Ustadz Nabawi juga mengajak masyarakat Belawan untuk tetap menjaga ketenangan. Dalam pesannya, ia mengingatkan bahwa amarah yang tak terkendali hanya akan melukai perjuangan itu sendiri.
“Menahan diri bukan berarti menyerah. Justru di situlah letak kekuatan kita—menjaga marwah perjuangan tanpa melanggar hukum,” tuturnya.
Namun, ketenangan itu bukan tanpa batas. Ada harapan yang dititipkan, sekaligus peringatan yang disampaikan. Kepada Wali Kota Medan, Ustadz Nabawi menegaskan pentingnya kehadiran seorang pemimpin di tengah rakyatnya—bukan sekadar dalam janji, tetapi dalam tindakan nyata.
“Jika pemimpin terus memilih diam, maka rakyat akan mencari jalannya sendiri untuk bersuara,” katanya.
Dan bila suara itu kembali tak mendapat ruang, maka langkah berikutnya telah disiapkan. Aksi di Kantor Wali Kota Medan disebut akan menjadi pilihan, bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai ikhtiar terakhir agar suara yang lama terpendam bisa benar-benar didengar.
Di Belawan, malam mungkin kembali tenang. Namun di balik ketenangan itu, ada bara yang tetap menyala—menunggu jawaban, menunggu kehadiran, menunggu keadilan yang tak kunjung tiba. (Rijal)













