Belawan.CN- Tangis, kepanikan, dan kepulan asap hitam menyelimuti kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Belawan, Sabtu (20/6/2026) sekitar pukul 11.00 WIB. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas nelayan yang sedang mencari nafkah, bencana datang tanpa peringatan. Sedikitnya empat kapal ikan milik Gudang Mitra Laut hangus dilalap si jago merah dalam kebakaran hebat yang menggegerkan kawasan pelabuhan.
Api yang diduga berasal dari korsleting listrik di salah satu kapal yang sedang melakukan bongkar muat ikan awalnya tampak seperti percikan kecil. Namun dalam hitungan menit, percikan itu berubah menjadi monster api yang mengamuk. Kobaran merah menyala menjilat badan kapal, melahap kayu, mesin, hingga perlengkapan melaut yang selama ini menjadi tumpuan hidup para nelayan.
Suara teriakan nelayan pecah di sepanjang dermaga. Sebagian berlari menyelamatkan diri, sebagian lagi nekat mendekati kobaran api demi menyelamatkan kapal dan peralatan yang masih bisa diselamatkan. Namun keganasan api tak mampu dibendung.
Angin kencang yang berembus dari laut membuat kobaran semakin liar. Api melompat dari satu kapal ke kapal lainnya, seolah tak memberi kesempatan bagi para pemilik kapal untuk menyelamatkan aset mereka. Situasi semakin sulit karena kondisi air laut yang sedang surut membuat kapal-kapal lain tidak mudah dipindahkan menjauh dari titik kebakaran.
Dari kejauhan, asap hitam pekat terlihat membumbung tinggi ke langit Belawan. Warga berbondong-bondong mendatangi lokasi, menyaksikan dengan cemas bagaimana kapal-kapal yang selama ini menjadi sumber penghidupan para nelayan perlahan berubah menjadi rangka-rangka hangus.
Puluhan petugas pemadam kebakaran dari Pemko Medan, Pelindo Regional I, dan unsur terkait lainnya akhirnya tiba di lokasi. Dengan segala kemampuan yang ada, mereka berjibaku melawan kobaran api yang terus mengamuk. Setelah perjuangan panjang dan menegangkan, api akhirnya berhasil dijinakkan.
Meski tidak menelan korban jiwa, musibah ini meninggalkan luka mendalam. Kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah. Bagi para nelayan dan pemilik kapal, yang hilang bukan sekadar armada penangkap ikan, melainkan harapan, keringat, dan hasil kerja keras yang dibangun selama bertahun-tahun.
Ketua DPD HNSI Sumatera Utara, Zulfahri Siagian, mengatakan berdasarkan informasi sementara yang diperoleh dari nelayan dan pemilik kapal, api diduga berasal dari korsleting listrik pada salah satu kapal.
“Menurut informasi dari nelayan dan pemilik kapal, api diduga berasal dari korsleting listrik yang terjadi di salah satu kapal. Jumlah kapal yang terbakar ada empat unit,” ungkap Zulfahri.
Di tengah puing-puing kapal yang masih mengepulkan asap, Zulfahri juga menyampaikan harapan besar kepada pemerintah agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Ia meminta adanya pembangunan hidran permanen di kawasan PPS Belawan serta penyediaan unit pemadam kebakaran yang siaga dari darat maupun laut.
Menurutnya, kebakaran ini menjadi alarm keras bagi semua pihak bahwa kawasan pelabuhan perikanan yang menjadi denyut nadi ekonomi nelayan membutuhkan sistem perlindungan yang lebih memadai.
Saat matahari mulai condong ke barat, yang tersisa hanyalah rangka kapal yang menghitam dan tatapan kosong para nelayan yang menyaksikan sumber nafkah mereka musnah di depan mata. Di Pelabuhan Belawan hari itu, bukan hanya empat kapal yang terbakar, tetapi juga harapan dan perjuangan panjang yang selama ini berlayar bersama ombak.( Rijal)














