Sergai — CN – Isu mengejutkan menerpa pelaksanaan program Sekolah Rakyat Serdang Bedagai. Selvi Anggraini, seorang siswi yang baru menjalani masa awal kegiatan di lingkungan sekolah berasrama tersebut, dikabarkan meninggalkan area sekolah pada Minggu subuh (02/08/2026).
Kabar kepulangan di luar prosedur ini pertama kali diungkapkan oleh ibu kandung korban, Legini (43), warga Desa Kampung Pon, Kecamatan Sei Bamban, Kabupaten Serdang Bedagai. Sambil menahan tangis, Legini mengaku krisis informasi dan kecewa lantaran baru mengetahui peristiwa tersebut pada Ahad pagi melalui seorang pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) bernama Evi.
“Saya sangat kecewa dan menyesalkan bagaimana anak saya bisa keluar. Katanya penjagaannya ketat, tapi kok bisa kabur?” ungkap Legini saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon WhatsApp, Senin (03/08/2026).
Legini juga menyoroti ketidakterbukaan pihak pengelola asrama. Menurut keterangannya, pada Sabtu malam (01/08/2026), kakak kandung Selvi sempat datang mengirimkan titipan bekal makanan ke sekolah. Namun, pihak pengelola dilaporkan tidak menyampaikan atau memberitahukan keberadaan maupun kondisi Selvi kepada pihak keluarga saat itu. Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga menyebutkan bahwa anak mereka belum juga kembali atau memberikan kabar kepastian ke rumah.
Tanggapan Dinas Sosial SergaiMenanggapi informasi yang beredar di tengah masyarakat tersebut, Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial Kabupaten Serdang Bedagai, Edwin Tarigan,, yang dikonfirmasi secara terpisah melalui sambungan telepon memberikan tanggapan.
Edwin menyatakan bahwa pihaknya di jajaran Dinas Sosial Kabupaten Serdang Bedagai secara resmi belum menerima laporan atau informasi mendetail terkait insiden kaburnya siswi atas nama Selvi Anggraini tersebut. Pihaknya berjanji akan segera menelusuri kebenaran informasi di lapangan guna memastikan SOP pengawasan di Sekolah Rakyat Serdang Bedagai berjalan sebagaimana mestinya.
Kasus ini kini menjadi sorotan publik mengingat fasilitas pendidikan berasrama penuh ini baru saja memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi para peserta didik dari kalangan keluarga prasejahtera. Publik menunggu langkah konkrit dan klarifikasi lanjutan dari pihak manajemen sekolah dan instansi terkait. (Syahrial).











