PUISI ANAK YANG KEHILANGAN MASA DEPAN

oleh

Ketika Perjudian, Narkotika dan Prostitusi Diduga Dibiarkan, Siapa yang Menyelamatkan Generasi Muda?

DELI SERDANG Cakrawala Nusantara — Ada anak-anak yang seharusnya sibuk mengejar cita-cita. Ada yang bermimpi menjadi guru, dokter, polisi, tentara, pengusaha, atau sekadar ingin membahagiakan kedua orang tuanya.

example banner

Namun, bagaimana jika lingkungan tempat mereka tumbuh justru dipenuhi perjudian, narkotika dan prostitusi?

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan masyarakat, suara anak-anak itu mungkin tidak terdengar. Mereka belum mampu melakukan demonstrasi, belum mampu menulis surat pengaduan, bahkan mungkin belum memahami mengapa lingkungan di sekitarnya berubah menjadi tempat yang mengancam masa depan mereka.

Inilah puisi mereka:

«Aku Anak yang Kehilangan Masa Depan

Aku ingin sekolah,

aku ingin punya cita-cita.

Tapi di depan rumahku,

kulihat permainan uang dan harapan palsu.

Di jalan yang setiap hari kulewati,

ada barang haram yang menghancurkan mimpi.

Di malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat,

BACA  Pererat Silaturahmi HUT RI ke - 81,Kades Padang Brahrang Buka Jalan Santai Bersama Warga.

kulihat dunia yang belum seharusnya kukenal.

Aku bertanya kepada Ayah dan Ibu,

“Mengapa semua ini dibiarkan?”

Mereka hanya diam.

Mereka juga takut.

Aku bertanya kepada mereka yang punya kewenangan,

“Siapa yang akan melindungi kami?”

Tak ada jawaban yang kudengar.

Hari ini aku masih anak-anak,

tetapi lingkunganku memaksaku mengenal kehancuran

sebelum mengenal masa depan.

Jika suatu hari aku gagal,

jangan hanya salahkan aku.

Tanyakan kepada orang-orang dewasa:

di mana mereka ketika masa depanku sedang dirampas?»

Jangan Tunggu Anak Menjadi Korban

Fenomena perjudian, penyalahgunaan narkotika dan prostitusi bukan sekadar persoalan moral atau ketertiban umum. Jika benar terjadi secara terbuka dan berulang di suatu wilayah, dampaknya dapat merembet kepada keluarga, keamanan lingkungan, kesehatan masyarakat serta perkembangan anak dan remaja.

Yang paling dikhawatirkan adalah munculnya anggapan bahwa praktik-praktik tersebut merupakan sesuatu yang biasa.

BACA 

Ketika perjudian terus terlihat, narkotika mudah beredar dan praktik prostitusi berlangsung tanpa penanganan yang efektif, masyarakat dapat bertanya: apakah pengawasan sudah berjalan sebagaimana mestinya?

Pertanyaan tersebut bukan berarti menuduh seluruh aparat atau instansi terkait melakukan pembiaran. Namun, apabila laporan masyarakat memang telah disampaikan berkali-kali dan ditemukan bukti adanya aktivitas ilegal, maka sudah semestinya ada langkah penanganan sesuai kewenangan dan ketentuan hukum yang berlaku.

Negara Tidak Boleh Kehilangan Anak-Anaknya

Generasi muda adalah investasi terbesar sebuah daerah.

Mereka bukan sekadar angka dalam data kependudukan. Mereka adalah anak-anak yang kelak menjadi tenaga kerja, pemimpin, orang tua dan penerus bangsa.

Karena itu, pemberantasan penyakit sosial tidak cukup hanya dilakukan ketika kasus sudah menjadi viral atau ketika seorang anak sudah terjerumus.

Pencegahan harus dilakukan sejak dini.

Pemerintah daerah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, tokoh agama, tokoh masyarakat, orang tua dan seluruh elemen masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.

BACA  Komunitas Wartawan Tebo, ucapkan atas terbentuknya PWI Bungo dan Tebo.

Jika ada dugaan tindak pidana, masyarakat juga perlu diberikan ruang untuk melapor dan mendapatkan perlindungan serta tindak lanjut yang jelas.

Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya ketertiban hari ini.

Yang dipertaruhkan adalah masa depan anak-anak kita.

Sebuah Pertanyaan untuk Semua

Jika perjudian menghancurkan ekonomi keluarga, narkotika menghancurkan kesehatan dan masa depan anak, sementara prostitusi membawa dampak sosial yang serius, maka pertanyaannya sederhana:

Sampai kapan kita hanya akan melihat dan membicarakannya?

Jangan sampai suatu hari nanti kita bertanya mengapa anak-anak kehilangan arah, sementara ketika lingkungan mereka mulai rusak, orang-orang dewasa memilih diam.

Jangan tunggu seorang anak menjadi korban untuk kemudian kita mencari siapa yang harus disalahkan.

Selamatkan anak-anak sebelum mereka kehilangan masa depan.

Editor koordinator wilayah

No More Posts Available.

No more pages to load.