Sejarawan Universitas Jambi Desak Pemerintah Lakukan Ekskavasi dan Penyelamatan Bersejarah Situs Candi Teluk Kuali 

oleh
oleh
Oplus_131072

TEBO, Cakrawala Nusantara.id — Penantian panjang masyarakat Desa Teluk Kuali, Kecamatan Tebo Ulu, Kabupaten Tebo, atas kepastian penelitian dan pemugaran peninggalan peradaban Candi Teluk Kuali mendulang perhatian serius dari kalangan akademisi dan sejarawan Jambi.

​Temuan struktur bangunan kuno dan benda purbakala yang tercatat sejak ekspedisi tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada 12 Maret 1954 silam—serta penemuan kembali arca bersejarah pada 1975 yang kini tersimpan di Museum Siginjai—dinilai belum mendapat respons penyelamatan yang maksimal dari instansi terkait.

Oplus_131072
example banner

​Inisiator pendiri Program Studi Arkeologi Universitas Jambi (Unja) sekaligus akademisi dan sejarawan Jambi, Dr. Drs. Yusdi Anra, M.Pd.,saat di hubungi awak media Lingkaran Istana Sabtu 26/9/2026 , menegaskan bahwa pemerintah daerah beserta Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) sudah sepatutnya mengambil langkah konkrit di lapangan.
​”Dengan adanya jejak rekam temuan Candi di Teluk Kuali yang sudah teridentifikasi sejak tahun 1954, pemerintah dan dinas terkait seharusnya segera melakukan langkah ekskavasi atau penyelamatan (rescue excavation). Ini penting untuk mengungkap secara detail dan ilmiah keterkaitan serta skala bangunan Candi Teluk Kuali tersebut,” ujar Dr. Yusdi Anra saat dimintai pandangannya.

BACA 

​​Menurut Dr. Yusdi Anra, keberadaan Candi Teluk Kuali tidak berdiri sendiri dalam linimasa sejarah peradaban Melayu Jambi. Secara konteks ruang dan arkeologis, situs ini memiliki keterikatan erat dengan sebaran candi-candi lain di sepanjang aliran Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari.
​”Candi Teluk Kuali ini masih memiliki korelasi dan hubungan kebudayaan dengan sejumlah temuan situs candi lainnya, seperti Candi Padang Roco, Candi Dusun Tuo Sumai, Candi Kapas Tuo—tempat ditemukannya Arca Berlapis Emas—serta Candi Teluk dan Candi Sungai Duren,” ungkapnya.

BACA 

 

​Lebih lanjut, ia membeberkan bahwa sepanjang jalur DAS Batanghari sebenarnya masih banyak tersimpan struktur batu bata candi peradaban kuno yang hingga kini belum terdata atau terpetakan secara resmi oleh dinas kebudayaan. Kondisi ini dinilai sangat rawan terhadap ancaman pengerusakan maupun penjarahan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
​”Jika tidak segera dilakukan pengamanan dan pendataan sistematis di lapangan, kita khawatirkan area situs akan mengalami pengeroyokan atau penggalian liar oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Dampaknya, data sejarah penting bangsa ini bisa hilang tak berjejak,” tegas pakar sejarah Jambi tersebut.

​Edukasi Warga dan Penyelamatan Situs
​Sebagai akademisi yang membidani lahirnya keilmuan Arkeologi di bumi Sepucuk Jambi Lurah Kerapatan Negeri, Dr. Yusdi Anra berharap Pemkab Tebo bersama Pemprov Jambi dan BPK Wilayah V segera bergerak mengamankan kawasan Situs Candi Teluk Kuali. Langkah penyelamatan fisik ini juga harus diimbangi dengan pendekatan sosial kepada warga setempat.
​”Pemerintah harus hadir mengamankan situs ini sekaligus memberikan edukasi sejarah dan budaya kepada masyarakat sekitar. Ketika masyarakat paham betapa berharganya nilai sejarah di tanah mereka, warga sendiri yang akan menjadi benteng utama dalam menjaga kelestarian situs tersebut,” pukasnya.

BACA 

​Desakan dari akademisi ini sejalan dengan aspirasi yang disampaikan oleh tokoh masyarakat Desa Teluk Kuali, Husni. Warga berharap langkah konkrit dari instansi terkait dapat menuntaskan penantian panjang puluhan tahun, sehingga Situs Candi Teluk Kuali dapat dipugar, diteliti menyeluruh, dan ditetapkan sebagai Cagar Budaya resmi di Kabupaten Tebo. (Candra)

No More Posts Available.

No more pages to load.