TEBO, Cakrawala Nusantara Id — Upaya pengungkapan tabir sejarah peradaban kuno di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari memasuki babak baru. Dua sejarawan terkemuka Provinsi Jambi, Dr. Yusdi Anra bersama Peneliti dari Pusat Data Artefak dan Sejarah Nusantara (PUDAS) Jambi, Via Dicky, dijadwalkan turun langsung ke lapangan untuk menelusuri keberadaan Situs Candi Teluk Kuali di Kecamatan Tebo Ulu, Kabupaten Tebo, pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
Penelusuran ini menjadi langkah krusial untuk menindaklanjuti dan memverifikasi rekam jejak bersejarah, mulai dari ekspedisi tim arkeologi Jakarta pada tahun 1954 hingga penemuan arca kuno di area situs pada tahun 1975.
Ya
Berdasarkan analisis teranyar PUDAS Jambi, Candi Teluk Kuali diperkirakan berasal dari abad ke-8 hingga ke-11 Masehi—era keemasan Kerajaan Melayu Kuno dan perkembangan awal pengaruh Sriwijaya. Situs ini dinilai menjadi salah satu simpul penting jalur perdagangan dan syiar keagamaan yang menghubungkan kompleks Candi Muaro Jambi dengan Situs Candi Padang Roco di Dharmasraya, Sumatera Barat.
Potensi sejarah di Teluk Kuali sesungguhnya telah tercatat secara resmi sejak era awal kemerdekaan. Penelusuran pada 3 Oktober besok bertujuan merangkai kembali benang merah sejarah, terutama keterkaitan antara temuan lapangan terdahulu dengan peninggalan artefak yang ada,” ungkap tim peneliti PUDAS Jambi.
Jejak Ekspedisi 1954 dan Temuan Arca 1975
Secara historis, penelusuran oleh duet sejarawan ini berpijak pada catatan penting ekspedisi masa lalu. Pada Jumat, 12 Maret 1954, tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Proyek Penelitian Purbakala Jakarta) yang dipimpin Soejatmi Satari menggelar ekspedisi ke Desa Teluk Kuali.
Rombongan menyusuri derasnya Sungai Batanghari menggunakan tiga unit sampan hingga mencapai lokasi yang dikenal warga sebagai Situs “Gedung”, di mana ditemukan sisa bata merah kuno serta cerita tutur terkait arca kuno yang hilang.
Misteri arca tersebut menemukan titik terang pada tahun 1975 saat bagian arca berhasil ditemukan kembali di areal kompleks Candi Teluk Kuali. Benda cagar budaya tersebut sempat diamankan oleh tokoh masyarakat setempat, H. Hoesin Saat, sebelum diserahkan secara resmi kepada pihak berwenang pada tahun 1992.
Saat ini, arca bersejarah asal Teluk Kuali tersebut tersimpan rapat sebagai koleksi Museum Siginjai Jambi.
Masyarakat Menanti Ekskavasi dan Pemugaran
Rencana kedatangan Dr. Yusdi Anra dan Via Dicky pada 3 Oktober mendatang disambut hangat oleh masyarakat setempat. Tokoh masyarakat Desa Teluk Kuali, Husni, yang juga Ketua Ormas Rumah Juang RAMPAS Setia 08 Berdaulat Kabupaten Tebo, menegaskan bahwa kedatangan para sejarawan ini diharapkan menjadi momentum penting agar instansi teknis terkait tidak lagi menutup mata terhadap potensi Candi Teluk Kuali.
”Candi Teluk Kuali ini sebenarnya sudah disurvei oleh tim dari Jakarta sejak tahun 1954. Sangat disayangkan, penanganannya stagnan berpuluh-puluh tahun. Kami berharap penelusuran oleh Dr. Yusdi Anra dan Via Dicky ini dapat mendorong Pemerintah Kabupaten Tebo, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V, serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi untuk segera melakukan ekskavasi lanjutan dan pemugaran secara serius,” tegas Husni.
Penetapan situs secara resmi sebagai Cagar Budaya serta langkah pemugaran nyata menjadi penantian panjang warga Desa Teluk Kuali sejak dekade 1950-an demi menyelamatkan identitas dan peradaban sejarah di Kabupaten Tebo agar tidak tergerus zaman. (Tebo J.)












