Via Dicky. Candi Teluk Kuali: Jejak Peradaban Melayu Kuno Abad ke-8 di Tebo yang Menanti Keseriusan Pemerintah

oleh
oleh

TEBO, Lingkaranistana.id — Keberadaan Situs Candi Teluk Kuali di Kecamatan Tebo Ulu, Kabupaten Tebo, kembali menjadi sorotan. Berdasarkan analisis Data Artefak dan Sejarah Nusantara (PUDAS) Jambi, Via Diky, Candi Teluk Kuali diperkirakan berasal dari abad ke-8 hingga ke-11 Masehi. Periode ini bertepatan dengan masa keemasan Kerajaan Melayu Kuno dan perkembangan awal pengaruh Sriwijaya di tanah Jambi.

​PUDAS Jambi mencatat bahwa Situs Candi Teluk Kuali memiliki keterkaitan erat dengan kawasan Candi Muaro Jambi dan Situs Candi Padang Roco di Dharmasraya, Sumatera Barat. Ketiganya membentuk simpul penting jaringan peradaban kuno sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari yang berfungsi sebagai jalur perdagangan dan syiar keagamaan pada masa lalu.

example banner

​​Secara historis dan arsitektural, keterkaitan Candi Teluk Kuali dengan situs-situs besar di sepanjang Batanghari terlihat dari beberapa indikator utama:
​Jalur Sutra Sungai Batanghari: Sungai Batanghari berperan sebagai sarana transportasi utama peradaban Hindu-Buddha. Candi Tuo Sumay dan Candi Teluk Kuali berada di wilayah Kabupaten Tebo, sementara Candi Padang Roco berada di kawasan hulu (Dharmasraya).

BACA 

​Pergeseran Pusat Kekuasaan: Candi Tuo Sumay dan Candi Teluk Kuali (abad ke-7–11 M) mewakili era awal peradaban Melayu Kuno. Seiring pergeseran pusat pemerintahan ke arah pedalaman pada abad ke-13–14 M, muncul kompleks Candi Padang Roco.
​Karakteristik Arsitektur & Keagamaan: Ketiga kompleks candi ini didominasi oleh struktur bata merah kuno—berbeda dengan candi-candi di Pulau Jawa yang dominan memakai batu andesit—serta sama-sama bercorak Buddha/Hindu-Buddha.

​Potensi sejarah di Teluk Kuali sesungguhnya telah tercatat secara resmi sejak era awal kemerdekaan. Pada Jumat, 12 Maret 1954, tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Proyek Penelitian Purbakala Jakarta) yang dipimpin Soejatmi Satari menggelar ekspedisi ke Desa Teluk Kuali.
​Setelah menempuh perjalanan darat yang berlumpur dari Bangko dan berkoordinasi dengan otoritas setempat di Muara Tebo, rombongan menyusuri derasnya Sungai Batanghari menggunakan tiga unit sampan. Tim harus menembus tebing curam dan padang alang-alang dengan pengawalan warga serta pawang setempat sebelum mencapai lokasi yang dikenal warga sebagai Situs “Gedung”.
​Di lokasi tersebut, tim arkeologi menemukan sisa bata merah kuno serta menggali informasi tutur masyarakat terkait keberadaan arca kuno yang sempat rusak dan hilang.

BACA 

​Misteri arca tersebut menemukan titik terang pada tahun 1975 ketika bagian arca ditemukan kembali di areal kompleks Candi Teluk Kuali. Tokoh masyarakat setempat, H. Hoesin Saat, mengamankan benda bersejarah tersebut sebelum menyerahkannya secara resmi kepada pihak berwenang pada tahun 1992. Saat ini, arca bersejarah asal Teluk Kuali tersebut tersimpan sebagai koleksi di Museum Siginjai Jambi.
​Menanti Pemugaran dan Ekskavasi Lanjutan
​Kendati survei telah dilakukan sejak 1954 dan benda cagar budaya pendukung telah tersimpan di museum, penanganan komprehensif atas Situs Candi Teluk Kuali dinilai stagnan selama berpuluh-puluh tahun.

BACA 

​Tokoh masyarakat Desa Teluk Kuali, Husni, menyayangkan lambatnya perhatian dari instansi teknis terkait untuk menindaklanjuti temuan tersebut dengan ekskavasi dan penelitian arkeologi mendalam.
​”Candi Teluk Kuali ini sebenarnya sudah diteliti dan disurvei oleh dinas terkait sejak tahun 1954. Sangat disayangkan, sampai sekarang instansi terkait tidak ada yang mau serius untuk memastikan kebenaran dan melakukan ekskavasi lanjutan,” ujar Husni.

​Husni menegaskan bahwa penetapan situs secara resmi sebagai Cagar Budaya serta langkah pemugaran merupakan penantian panjang masyarakat sejak dekade 1950-an. Hal ini penting agar identitas sejarah dan nilai peradaban di Kabupaten Tebo tidak tergerus zaman.
​Masyarakat Desa Teluk Kuali berharap Pemerintah Kabupaten Tebo, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V, serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi dapat segera turun ke lapangan untuk menindaklanjuti rekam jejak penelitian terdahulu demi penyelamatan aset sejarah di sepanjang aliran Batanghari. (TENO)

No More Posts Available.

No more pages to load.