Guru Honorer SDN 021 Tarai Bangun ‘Serang’ Jurnalis dan Seret Kepsek Untuk Jauhi Wartawan

oleh

Kampar CN- Seorang oknum guru honorer di SDN 021 Tarai Bangun, menunjukkan etika arogan dan berusaha ‘serang’ wartawan saat berlangsungnya wawancara dengan Kepala Sekolah (Kepsek) SDN 021 Tarai Bangun, Aspinawati Harahap, pada 23 Desember 2022, pagi kemarin.

Parah, ditengah wawancara berjalan dengan damai dan tenang, tiba-tiba seorang guru honorer ikut campur sembari mengaku dirinya guru dan juga wartawan. Mendengar pengakuan itu, memancing emosi awak media hingga terjadi perang mulut, bahkan nyaris terjadi penyerangan dan pemukulan oleh guru honorer itu.

example banner

Untung saja, Kepala Sekolah dan juga beberapa orang guru yang mendengar suara keributan melerai guru honorer yang dinilai arogan tersebut. Tidak terima dilerai, dengan kasar guru honorer itu tersebut menyeret tangan kepala sekolah keluar ruangan.

Terlihat ketika itu kepsek menolak, namun pria honorer itu dengan nada tidak layak sebagai pendidik tetap menyeret kepsek itu keluar ruangan meninggalkan wartawan. Akibatnya, wawancara terhalang dan dinilai diintimidasi oleh guru honorer tersebut.

BACA  PT Sinergi Integritas Agroindustri Realisasikan CSR Perbaikan Jalan di Desa Bahtera Makmur

Empat wartawan yang hadir dalam wawancara itu, ketika dikonfirmasi, menjelaskan, awalnya dirinya tidak berniat untuk memburu berita terkait dengan dugaan pungli terkait orangtua harus bayar Rp50 ribu untuk tanah timbun.

” Awalnya, wali kelas menekan istri saya membayar Rp50 ribu untuk tanah timbun. Itu dilakukan wali kelas itu saat menyerahkan rapor murid,” kata Eman Melayu yang berprofesi sebagai wartawan dan juga selaku orangtua murid di sekolah itu.

Mendengar itu, kata Eman, dirinya datang sekolah dan menjumpai kepala sekolah. Dan saat dijumpai terkait dengan penahanan rapor anaknya, dijelaskan oleh kepsek itu hanya miskomunikasi dan rapor anak Eman itu lalu diserahkan.

Namun di saat berbincang kata Eman, beberapa guru masuk keruangan dimana tempat pertemuan kepsek dengan dengan awak media ( ruangan kelas). Ketika itu guru-guru tersebut seakan mau jadi pahlawan, dan serang wartawan dengan ucapan kasar dan nada tinggi.

BACA  BNCT dan BSI Kolaborasi Salurkan Hewan Kurban untuk Masyarakat Bagan Deli

Ditengah beradu argument, jelas Eman lagi, tiba tiba seorang guru honorer mengaku guru dan juga wartawan dengan nada tinggi. Mendengarkan, itu lalu awak media menanyakan kode etik dan UU Pers, akan tetapi guru honorer itu kesal dan berdiri lalu berusaha serang Wartawan untung saja bisa di lerai.

Kata Eman, guru itu juga berusaha menghalang-halang kami dalam memperoleh informasi, guru honorer itu menyeret kepsek keluar ruangan pertemuan dengan ucapan untuk tidak melayani wartawan.

” Prilaku guru honorer itu sudah mengintimidasi kami dalam memperoleh informasi. Apa yang dilakukan guru honorer itu sudah sangat bertentangan dengan Ubdang -undang pers Nomor 40 Tahun 1999,” ucap Eman.

Tegas Eman, prilaku guru honorer yang dinilai tidak ada etika ini akan dilaporkan baik secara kedinasan maupun secara hukum ” Intimidasi atau menghalang-halangi kinerja jurnalis seperti ini harus kita laporkan, agar tidak ada lagi prilaku seperti ini dikemudian hari” ucap Eman.

BACA  Terima Informasi Keributan di Kafe, Polres Tebing Tinggi Tindaklanjut Laporan Call Center

Padahal kata Eman, yang datang kemarin itu merupakan wartawan yang memang domisili di Kecamatan Tambang, seharusnya guru honorer itu menunjukkan etikanya. Sedang kepsek saja bisa menghargai mereka, dengan nada yang santun.

” Mereka (Wartawan) yang datang itu bukan wartawan gadungan, mereka wartawan tempatan. Dan status kami jelas, dengan media yang jelas. Dan kami juga memiliki uji kompetensi yang baik. Kami datang beretika,” pungkas Eman.

Diujung wawancara, Yulisman atau Eman Melayu menegaskan lagi, dirinya pastikan akan melaporkan perkara ini kepada pihak yang berwajib dan juga ke dinas, agar ada efek jera bagi guru honorer arogan ini.***

No More Posts Available.

No more pages to load.