Napak Tilas Perpindahan Ibu Kota Nganjuk, Ratusan Dokar dan Becak Semarakkan Kirab Boyong Hambangun Projo

oleh

Alun-alun Brebek Nganjuk ( Jatim ), CakrawalaNusantara.id – Jomsen Silitonga. 

Ratusan kendaraan tradisional memadati jalur bersejarah dari Alun-Alun Berbek menuju Pendopo KRT Sosrokoesoemo dalam prosesi budaya Kirab Boyong dan Sedekah Bumi Hambangun Projo yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Nganjuk, Sabtu.

example banner

Kegiatan tersebut menjadi simbol napak tilas perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Nganjuk dari Berbek ke Nganjuk pada masa lampau. Ribuan warga tampak antusias menyaksikan iring-iringan kendaraan yang tersusun rapi dan sarat nilai sejarah serta budaya.

Parade diawali oleh mobil Patwal Satlantas sebagai pembuka jalan, disusul Kereta Pusaka yang menempati barisan terdepan kirab. Di belakangnya, rombongan utama yang membawa Bupati Nganjuk Dr. Drs. H. Marhaen Djumadi, S.E., S.H., M.M., M.B.A., Wakil Bupati Trihandy Cahyo Saputro, S.T., jajaran Forkopimda, serta pimpinan DPRD Kabupaten Nganjuk tampil menggunakan dokar utama.

BACA  Pemerintah Pekon Ringin jaya Salurkan BLT - DD Bulan Januari - Juni Tahun 2026  

Sebanyak 80 armada dokar lainnya turut mengiringi prosesi dengan membawa para kepala perangkat daerah, pimpinan badan, instansi vertikal, BUMD, hingga seluruh camat se-Kabupaten Nganjuk. Barisan dokar yang berjajar rapi menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang memadati sepanjang rute kirab.

Suasana semakin semarak ketika 51 armada becak hias turut memasuki jalur parade. Armada tersebut terdiri dari 20 becak K3S Kota Nganjuk, 15 becak K3S Berbek, dan 16 becak K3S Loceret yang tampil dengan beragam ornamen khas daerah.

Di bagian akhir kirab, komunitas mobil dan komunitas sepeda turut ambil bagian mengawal jalannya prosesi hingga tiba di Pendopo KRT Sosrokoesoemo.

Bupati Nganjuk, Kang Marhaen, mengatakan Kirab Boyong dan Sedekah Bumi Hambangun Projo merupakan agenda budaya yang memiliki makna penting dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah berdirinya Kabupaten Nganjuk.

BACA  TERPIDANA PERKARA PENGGELAPAN DITANGKAP TIM INTELIJEN KEJATI SUMUT DI KOTA TANJUNG BALA

“Kirab Boyong ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para leluhur dalam membangun Kabupaten Nganjuk. Nilai-nilai sejarah, budaya, gotong royong, dan kebersamaan yang diwariskan para pendahulu harus terus kita lestarikan serta diwariskan kepada generasi muda,” ujar Kang Marhaen.

 

Menurutnya, pelestarian budaya lokal menjadi salah satu pondasi penting dalam memperkuat identitas daerah di tengah perkembangan zaman. Melalui kegiatan budaya seperti Kirab Boyong Hambangun Projo, masyarakat diajak untuk semakin mencintai sejarah dan budaya daerahnya sendiri.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana edukasi sejarah sekaligus memperkuat persatuan masyarakat. Dengan menjaga budaya dan tradisi yang ada, kita turut menjaga jati diri Kabupaten Nganjuk agar tetap lestari dan dikenal luas oleh generasi mendatang,” tambahnya.

BACA  Restorative Justice Polsek Tigapanah Akhiri Kasus Pencurian Secara Damai

Panitia pelaksana menerapkan sistem formasi yang fleksibel untuk menjaga kerapian barisan. Apabila terdapat peserta yang berhalangan hadir, posisi kosong langsung diisi oleh peserta di urutan berikutnya sehingga rangkaian kirab tetap berjalan tertib tanpa mengganggu susunan parade.

Perpaduan antara Kereta Pusaka, dokar, becak hias, mobil, dan sepeda berhasil menciptakan atraksi budaya yang menarik perhatian masyarakat. Selain menjadi bagian dari peringatan tradisi Sedekah Bumi, kirab ini juga menjadi sarana pelestarian sejarah dan budaya lokal yang terus dijaga oleh Pemerintah Kabupaten Nganjuk bersama masyarakat.

( Kabiro Nganjuk )

Tentang Penulis: Jomsen Silitonga Jurnalis Nganjuk

Gambar Gravatar
Kejujuran adalah modal utama

No More Posts Available.

No more pages to load.