Dibalik Indahnya Kebun Teh Sidamanik, Warga Soroti Dugaan Arogansi Pangulu dan Pengelolaan Usaha Wisata

oleh

SIMALUNGUN  CN – Hamparan hijau Kebun Teh PTPN IV Regional 2 Sidamanik, Kabupaten Simalungun, selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Sumatera Utara. Keindahan alam yang memanjakan mata tersebut ternyata menyimpan berbagai keluhan yang disampaikan sejumlah warga sekitar, khususnya terkait pengelolaan usaha wisata di kawasan tersebut.

 

example banner

Berdasarkan informasi yang dihimpun kru media dari sejumlah warga di sekitar lokasi wisata yang berada di wilayah Nagori Bah Butong I, muncul berbagai keluhan mengenai dugaan sikap arogan seorang oknum Pangulu bermarga Simbolon yang disebut-sebut turut mengelola usaha penyewaan kendaraan ATV di kawasan objek wisata tersebut.

 

Menurut keterangan warga, oknum Pangulu tersebut diduga memiliki dan mengoperasikan sekitar 15 unit ATV yang disewakan kepada pengunjung. Kondisi itu disebut menimbulkan kecemburuan di kalangan pelaku usaha lokal yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas wisata di kawasan kebun teh Sidamanik.

BACA  Jumat Berkah Brimob Sumut di Masjid Darul Azhar, Wujud Kepedulian Lewat Gotong Royong dan Berbagi

 

“Kalau beliau datang ke lokasi, sering kali kendaraan digas-gas dengan keras. Kami hanya bisa diam karena beliau dianggap sebagai penguasa di sini,” ungkap salah seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Tak hanya persoalan ATV, warga juga mempertanyakan sumber perolehan sejumlah aset yang dimiliki oknum Pangulu tersebut selama menjabat sebagai kepala desa. Di antaranya lahan perkebunan kopi yang disebut dibeli saat menjabat serta kendaraan jip yang kerap disewakan kepada wisatawan setiap akhir pekan.

BACA  Respon Cepat Sat Samapta Polres Langkat Berhasil Amankan Hewan Qurban Lepas di Stabat

Sejumlah warga berharap Aparat Penegak Hukum (APH) dan instansi terkait dapat melakukan penelusuran terhadap harta kekayaan yang dimiliki oknum Pangulu tersebut guna menjawab berbagai pertanyaan yang berkembang di tengah masyarakat.

 

“Kami hanya ingin ada keterbukaan. Dari mana sumber pembelian lahan kopi dan kendaraan-kendaraan yang digunakan untuk usaha wisata itu. Kalau memang tidak ada masalah, tentu akan lebih baik jika dijelaskan kepada masyarakat,” ujar warga lainnya.

 

Selain itu, warga juga menyoroti kondisi Badan Usaha Milik Nagori (BUMNag) yang disebut-sebut saat ini tidak berjalan optimal. Mereka berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola usaha desa agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat luas.

BACA  Bupati Aceh Singkil dan Keluarga Berkurban di Masjid Baiturrahman Lae Butar.

Beberapa pelaku usaha wisata di sekitar lokasi juga mengaku merasa tidak mendapatkan kesempatan yang sama dalam mencari pelanggan. Menurut mereka, terdapat kesan bahwa pengelolaan kawasan wisata lebih menguntungkan pihak tertentu dibandingkan masyarakat lainnya.

Hingga berita ini diturunkan, kru media masih berupaya menghubungi Pangulu Nagori Bah Butong I untuk memperoleht konfirmasi dan hak jawab terkait berbagai tudingan yang disampaikan warga tersebut. Media ini juga membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak yang disebutkan dalam pemberitaan untuk memberikan klarifikasi guna menjaga keseimbangan informasi sesuai prinsip jurnalistik.

 

Reporter : JR. S

Editor : HP. S

No More Posts Available.

No more pages to load.