SERGAI — CN – Di tengah hingar bingar program pengentasan kemiskinan, realitas pahit justru dialami oleh pasangan suami istri (pasutri) Suhartono (36) dan Suryani (30). Warga Dusun 2, Desa Mangga Dua, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) ini harus berjuang keras demi pengobatan anak mereka di tengah himpitan ekonomi yang kian menyesakkan, Selasa (23/06/2026).
Isak tangis Suryani tak terbendung saat menceritakan kembali perjuangan keluarganya. Cobaan bermula pada 14 November 2024 lalu, ketika ia harus menjalani operasi caesar untuk kelahiran anaknya di RS Bhayangkara Tebing Tinggi. Kala itu, persalinan berjalan lancar meski harus ditanggung dengan biaya BPJS Mandiri.
Namun, ujian sesungguhnya datang sebulan kemudian. Pada 13 Desember 2024, sang buah hati harus dilarikan ke rumah sakit di Medan karena kondisi kesehatannya. Malang tak dapat ditolak, BPJS sang anak sudah tidak aktif lantaran menunggak dan melewati batas waktu satu bulan.
Dalam keadaan panik dan ketiadaan biaya, uluran tangan dari tetangga dan warga desa serta pihak terkait menjadi satu-satunya harapan. Berkat bantuan Kepala Dusun (Kadus) setempat, Ibu Erni, yang menguruskan BPJS dan swadaya masyarakat yang terkumpul sekitar Rp 3.000.000, serta tambahan dana Rp 100.000 dari Kepala Desa (Kades) Mangga Dua, Budi Santoso, perawatan medis sang anak akhirnya dapat tertangani dan biaya rumah sakit berhasil diselesaikan melalui BPJS yang diurus buk Kadus.
Meski cobaan pengobatan telah terlewati, duka keluarga ini belum usai. Sang suami yang hanya bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan tidak menentu, membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mirisnya, hingga saat ini, keluarga Suhartono tercatat belum pernah mendapatkan bantuan sosial (bansos) apa pun dari pemerintah desa, seperti PKH dan BPNT maupun bantuan pangan yang sedang berjalan, kendati pihak desa dinilai telah mengetahui kondisi kehidupan mereka.
Kenyataan ini terasa sangat kontras. Suryani mengaku kerap melihat warga yang secara ekonomi lebih mampu justru terus mendapatkan kucuran bantuan dari pemerintah. Fakta di lapangan ini memunculkan tanya besar terkait ketepatan penyaluran bantuan di tingkat desa.
Suryani berharap, kisahnya yang sampai ke permukaan ini bisa menjadi alarm dan perhatian serius bagi Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai maupun pemangku kebijakan terkait. Ia sangat mendambakan adanya uluran tangan berupa bantuan yang tepat sasaran, cepat, dan bijak bagi keluarganya yang memang sangat membutuhkan.
Hingga berita ini diturunkan, awak media masih berupaya meminta tanggapan dari Kepala Desa Mangga Dua, Budi Santoso, maupun pihak Pemerintah Desa Mangga Dua terkait alasan belum disalurkannya bantuan sosial kepada keluarga Suhartono. (Syahrial).















